Memaknai Tradisi Malam Tujuh Likur
( Malam Lailatul Qadar )
Oleh S.Pelu
![]() |
| Mesjid Negeri Hitu |
Setiap memasuki bulan suci Ramadhan, banyak
tradisi yang dilakukan masyarakat Melayu Hitu dalam rangka menyambut dan
memeriahkan bulan suci Ramadhan, Malam Tujuh Likur biasa di peringati pada
malam ke 27 bulan ramadan. Minggu terakhir di bulan ramadan di percaya sebagai
saat yang istimewa bagi umat islam, dimana pada minggu minggu terakhir di bulan
ramadan, di percaya sebagai malam di turunkan nya Al-qur’an oleh Allah sebagai
kitab suci yang dijadikan petunjuk oleh umat islam, di minggu terakhir dan
malam-malam ganjil nya itu pula di percaya ada sebuah malam yang istimewa,
malam Lailatul Qadar. Malam yang dikenal sebagai malam seribu bulan, dimana
pahala yang di ganjarkan atas ibadah pada malam itu akan diganjarkan pahala
seperti beribadah selama seribu bulan. Maka dari itu, pada malam malam terakhir
bulan ramadan, umat islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah pada malam hari
dan beribadah di masjid. tiada yang tahu kapan malam istimewa itu datang, dan
kepada siapa yang beruntung mendapatkannya, tiada yang tahu.Bahkan hingga di penghujung bulan Ramadhan pun
juga banyak ditemukan tradisi yang berlaku secara turun-temurun sejak
masa lalu, Salah satunya yang masih dilakukan namun sudah mulai redup
pelaksanaannya adalah tradisi likuran atau 7 likur.
![]() | ||
| kegiatan Masyarakat Hitu yang Sedang Membawa ketupat di Mesjid |
Pada malam puncak pelaksanaan malam 7 likur, pelaksanaannya
dilengkapi dengan berbagai kegiatan oleh masyarakat diantaranya mereka
mengililingi kampung dengan obor atau dalam bahasa malayu hitu di sebut dengat
oborate yang telah mereka buat sebelumnya, Oborate dalam Bahasa Malayu Hitu Bisa Di sebut dengan Obor Yang di buat dari Batang Bambu.
Pelaksanaan perayaan malam terakhir Ramadhan
bukan sebatas simbol budaya bagi masyarakat
Melayu Hitu, tetapi lebih luas yaitu
dalam rangka menyambut datangnya malam seribu bulan yaitu malam Lailatul Qadar.
Dimana pada masa ini setiap individu akan lebih meningkat amal dan ibadahnya.
Sesuai dengan ajaran Islam, umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan
malam-malam qadr tersebut dengan memperbanyak ibadah kepada Allah swt.
Orang-orang melayu Hitu, seperti dahulunya beramai-ramai memasang
pelita di jalan-jalan dan atau membawa colok yang umumnya hari ini dikenal
dengan istilah obor yang terbuat dari bambu sebagai penerang bagi mereka untuk
pergi ke masjid atau ke temapa ibadah lainya untuk mendirikan qiyam al-lail.
![]() |
| Proses Ronda obor oleh anak-anak Hitu |
Seiring dengan perkembangan zaman, pemasangan
lampu colok yang dahulunya bersifat tradisional, kini dikonstruksi dalam bentuk
bangunan sederhana menjulang ke langit yang terbuat dari bahan dasar kayu lalu
didesain sedemikian rupa sehingga membentuk motif-motif tertentu yang setelah
dipasang pelita, yang terbuat dari bekas kaleng-kaleng kemasan minuman
dengan jumlahnya yang banyak sehingga terlihat begitu indah
dan menarik di malam hari.
Ada beberapa tahapan untuk memulai tradisi ini. Tahap pertama, yaitu persiapan, dilalui sebagai awal dari pekerjaan fisik, baik pengadaan bahan,pembuatan lampu jalan, hingga berbagai persiapan bahan lainnya satu persatu dipersiapkan. Tahap awal dalam persiapan ini biasanya diawali dari pembagian kerja sesuai dengan kesempatan dari masing-masing anggota masyarakat. Setelah berbagai tahapan yang dilalui untuk pembuatan lampu jalan selama menjelang bulan Ramadhan dan hingga memasuki bulan Ramadhan, akhirnya tibalah pada saat yang ditunggu-tunggu yaitu malam puncak pelaksanaan tradisi 7 likur. Istilah atau penamaan untuk menyebutkan tradisi 7 likur terkadang disebutkan dengan nama yang berbeda di setiap daerah, tetapi makna dan hakikatnya adalah sama. Hal itu, bukan saja bermaksud menghidupkan tradisi budaya yang sudah mulai punah tetapi menyimpan berbagai hal positif yang bermanfaat khususnya dalam memberikan semangat kepada generasi muda untuk dapat memahami mengetahui akar budaya yang dimiliki masyarakat Melayu Hitu..
Kemeriahan Malam 7 Likur juga di merianhakan
dengan beberapa kegiatan yang di lakukan oleh Pemerintah Desa di antaranya
dengan melukan bermacam lomba diantarnya lomba maulid,Tahfiz,adjan dan yang
terakhir lomba pada puncak perayaan malam 7 likur tersebut yaitu hadrot. Lomba Hadrot
di ikuti dari berbagia derah dan kompleks-kompleks yang ada di Negeri Hitu
Khususnya. Bagi mereka dalam menanamkan nuansa Islami sejak
dari kecil dan hal itu biasanya lebih melekat dan selalu menjadi ingatan bagi
mereka setelah dewasa dalam menjalani masa kehidupannya. Hal itu tentu tidak
akan didapatkan di daerah perkotaan, atau daerah yang sudah melupakan adat dan
tradisi budaya yang dimilikinya. Penyambutan datangannya bulan suci Ramadhan
ini sudah menjadi tradisi turun-temurun sejak dahulu. Penyambutan kedatangan
bulan suci Ramadhan dengan membuat penerangan tradisional merupakan salah satu
wujud rasa kegembiraan atas datangnya bulan suci Ramadhan, bulan penuh berkah,
rahmat, dan ampunan.
![]() | |
| Suasana Hitu di kelilingi Lampu |
Selain itu, tradisi nujuh likur juga kental
dengan nilai-nilai moral dan spiritual. Lampu colok seharusnya mengingatkan
bahwa Ramadan segera berakhir, maka sebagai umat Islam hendaknya lebih
meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. Terlebih pada malam ganjil karena pada
malam itulah diyakini masyarakat datangnya lailatul qodar. Oleh karenanya,
tradisi itu menjadi simbol. Dalam artian ketika diyakini bahwa penghujung
Ramadan tepatnya ketika umat Islam menanti atau menunggu datangnya lailatur
qadar.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar